QJMotor Klaim Raih Ratusan SPK dalam Debutnya di IIMS, Motor Dikirim Maret
- QJMotor
Jakarta, VIVA – QJMotor menjadi pabrikan motor baru yang turut meramaimkan pasar roda di Indonesia. Walau begitu, pabrikan asal China mengklaim langsung meraih banyak pesanan dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025.
Untuk langkah awal mereka memasarkan 4 produk sekaligus dengan status impor, yakni Fort 250 di segmen matik, SRK 800 RR sebagai motor sport full fairing. Sedangkan kelas cruiser ada SRV 600 V, dan SRV 250 AMT yang lahir sebagai cruiser matik pertama.
QJMotor memang bermain di pasar motor mesin besar dan juga premium, hal itu bukan tanpa alasan, walau di Indonesia masih dikuasai oleh pasar skutik. Mereka melihat pasar skuter masih dikuasai oleh brand-brand besar asal Jepang.
"Kita sadar diri bahwa kalau kita langsung main ke market (skuter) itu, itu kan pemainnya kuat semua. Makanya kita mulai dengan unit yang ada sekarang di 250 cc ke atas. Karena memang kita kuatnya di situ, di China," kata VP Branding & Marketing Communication PT QJMotor Industry Indonesia, Budi Kurniawan, saat ditemui di venue IIMS 2025, Rabu Kamis 20 Februari 2025.
"Dengan pengalaman kita selama menjadi market leader di China, kita yakin bahwa di cc 250 cc ke atas itu kita bisa bersaing lah untuk melawan market yang di Indonesia. Karena kalau kita lihat sendiri kan juga market 250 cc di Indonesia kan juga gak banyak," tambahnya.
QJMotor SRV 250 AMT
- QJMotor
Menariknya, QJMotor mengklaim sepanjang IIMS 2025 mendapat respon yang positif dari pengunjung. Hal itu, terlihat dari jumlah unit surat pemesanan kendaraan (SPK), yang sudah lebih dari ratusan unit.
"Teman-teman juga bisa lihat, di area test ride kita sampai ngantri-ngantri terutama untuk SRV 250 AMT," jelas Budi.
Sementara itu, model yang paling laris adalah SRV 250 AMT yang dibanderol Rp59.990.000. Sedangkan untuk pengirimannya sendiri, akan dilakukan pada Maret mendatang, dengan jumlah unit yang akan tiba adalah sekitar 186 unit.
"Kalau yang pesan di IIMS 2025, terimanya Maret. Sebetulnya seharusnya sih Februari, tapi karena kepotong sama imlek ya. Kan di China libur, jadi agak mundur sedikit ke Maret," tegas Budi.