Peran Penting Pemuda dalam Upaya Mencapai Eliminasi TBC 2030

ilustrasi masker mencegah penularan influenza, COVID-19, pneumonia dan TBC
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyelenggarakan rangkaian webinar untuk mengedukasi masyarakat lebih banyak soal pencegahan & penanganan Tuberkulosis (TBC). Dalam salah satu webinar bertajuk Generasi Muda Peduli TBC: Edukasi, Aksi Nyata, dan Solusi, Dinkes DKI Jakarta melibatkan Bakrie Center Foundation (BCF) sebagai salah satu pembicara.

Kemenkes Catat 889 Ribu Kasus TB per Maret 2025, Tertinggi di Pulau Jawa

Keterlibatan BCF pada webinar yang menyasar peserta pelajar dan mahasiswa ini, dilihat dari komitmen BCF dalam membawa isu TBC kepada generasi muda, khususnya mahasiswa melalui magang Campus Leaders Program (CLP).

Webinar HTBS 2025 Generasi Muda Peduli TBC: Edukasi, Aksi Nyata, dan Solusi, dibuka oleh Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta, dr. Budi Setiawan.

Tuberkulosis Bisa Ditularkan Lewat Piring Makan dan Gelas Minum?

Dalam sambutannya, Budi menyatakan peran generasi muda sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal TBC melalui edukasi yang lebih ringan dan dinamis. Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

Ilustrasi pemuda.

Photo :
  • Freepik
Kibarkan Bendera Gengster, Sejumlah Pemuda Diamankan Polisi

“Kita harus menggandeng dan berkolaborasi dengan erat dengan semua lini masyarakat” ucap dr. Budi.

Indonesia saat ini masih menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia, dengan estimasi kasus sebanyak 1.060.000 kasus TBC. Edukasi dan sinergi untuk pencegahan & penanggulangan TBC sangat penting untuk mempercepat eliminasi TBC di Indonesia.

Hal ini dituturkan oleh kedua narasumber webinar yaitu dr. Dimas Saputro,Sp.A(K), Ketua UK Respirologi IDAI Jaya dan Syahputrie Ramadhanie, Head of Leadership Sustainable Development BCF.

Melalui kolaborasi ini, BCF dan Dinkes DKI Jakarta berharap dapat menciptakan dampak yang luas dengan melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan dalam upaya pemberantasan TBC.

Generasi muda memiliki peran strategis dalam memperluas wawasan tentang pencegahan TBC, mengedukasi sesama, dan memutus stigma yang sering kali menghalangi upaya pengobatan dan deteksi dini.

Program seperti Campus Leaders Program dan inisiatif TB Rangers menjadi sarana penting dalam memperkuat kapasitas mahasiswa untuk bertindak langsung di masyarakat, memberikan kontribusi nyata dalam menyebarkan informasi yang benar tentang TBC dan memperkuat kesadaran akan pentingnya pencegahan serta pengobatan yang tepat.

Dengan semangat kolaborasi yang kuat, peran generasi muda dalam mengedukasi dan mengubah pola pikir masyarakat tentang TBC menjadi semakin penting.

BCF bersama Dinkes DKI Jakarta berkomitmen untuk memberikan ruang bagi anak muda untuk berkreasi dalam menyampaikan pesan tentang TBC melalui pendekatan yang lebih menarik dan mudah diterima.

Melalui berbagai program, seperti Campus Leaders Program dan TB Rangers, anak muda diharapkan dapat menjadi duta TBC yang tidak hanya menyebarkan informasi akurat, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mengurangi angka penularan serta stigma yang ada di masyarakat, menjadikan eliminasi TBC di Indonesia semakin tercapai.

“Anak muda bisa untuk membuat konten edukasi seputar TBC dengan cara yang kreatif, disebarkan lewat media sosial. Anak muda pun punya banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama untuk kesejahteraan pasien TBC. Misalnya, melakukan penggalangan dana untuk membangun rumah layak huni untuk pasien TBC,” jelas Dimas dalam paparannya.

Secara terorganisir, BCF sebagai lembaga non pemerintah juga telah melakukan upaya-upaya peningkatan kapasitas bagi mahasiswa, untuk mendukung mitra-mitra lembaga pemerhati TBC tingkat provinsi menjalankan kegiatan dan mencapai target temuan TBC di provinsi masing-masing.

Melalui program CLP, peserta magang yang disebut SDGs Hero, mengaplikasikan keilmuannya dan dapat memilih divisi sesuai dengan pengalaman maupun minatnya guna memperkuat edukasi, advokasi, dan pemberdayaan organisasi sosial pemerhati TBC.

Para SDGs Hero berkontribusi melalui ide (pikiran), waktu, dan tenaga untuk menghadirkan program yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terkait TBC dengan cara yang lebih inovatif dan kreatif.

“Ternyata temuan di lapangan, para peserta magang yang bertugas di 13 provinsi ini, mendapatkan perhatian dari masyarakat ketika mereka turun ke lapangan untuk melakukan edukasi atau pendampingan pasien. Dengan pembawaan yang lebih santai dan komunikatif, mereka bisa menyebarkan informasi seputar TBC dengan lebih ringan, mengurangi stigma yang ada di masyarakat,” jelas Putrie dalam webinar.

Sebagai penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan global, TBC dapat dicegah dan dikendalikan melalui upaya-upaya seperti menjaga pola hidup sehat dengan asupan gizi seimbang, olahraga rutin, menggunakan masker saat berinteraksi dengan penderita TBC aktif, dan melakukan vaksinasi BCG untuk anak-anak sebagai pencegahan.

Webinar ini juga memaparkan mengenai penanggulangan penyakit TBC dan mengedukasi para peserta untuk segera melakukan pemeriksaan jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, berkeringat di malam hari, atau mengalami penurunan berat badan drastis.

Bagi yang terkena TBC, penanggulangan juga bisa dilakukan dengan menjalani pengobatan TBC hingga tuntas selama 6 bulan tanpa terputus untuk mencegah resistensi obat.

Melalui kolaborasi antara berbagai sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, Indonesia optimis dapat mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Partisipasi aktif generasi muda melalui aksi nyata menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengakhiri penyebaran TBC di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya