Benarkah Vaksin HIV/AIDS yang Efektif Melindungi Tidak Akan Ada?
- dw
Keampuhan vaksin terbatas?
Satu-satunya kandidat vaksin yang sudah diujicoba pada manusia adalah yang disebut RV 144 di Thailand dari tahun 2003 sampai 2006 lalu. Lebih 16.000 relawan ikut dalam ujicoba pada manusia ini. Hasilnya tidak memuaskan para peneliti, karena efektivitas perlindungan vaksin hanya mencapai 31 persen responden. Dan efek perlindungan menghilang setelah beberapa bulan.
Riset berikutnya dilakukan di Afrika Selatan dimulai 2016, dengan kandidat vaksin yang diberi nama HVTN 702. Lebih 5.000 relawan dalam kisaran usia 18 hingga 35 tahun ikut serta dalam uji coba. Pada tahun 2020 uji coba kandidat vaksin HIV di Afrika Selatan itu dihentikan, karena tidak menunjukkan sukses yang jelas.
Uji coba berikutnya diberi nama MOSAICO, dengan kandidat vaksin kombinasi yang mengandung protein yang strukturnya meniru permukaan rumit virus HIV. Uji laboratorium pada monyet menunjukkan hasil yang menjanjikan. Sejak akhir tahun lalu di AS dilakukan uji klinis pada manusia dengan 3.800 relawan.
Uji klinis lainnya yang dilakukan di beberapa negara Afrika diberi nama IMBOKODO. Sejak tahun 2017 hingga 2022 mendatang, 2.600 relawan mengikuti uji coba vaksin HIV pada manusia tersebut. Sejauh ini efektivitasnya disebutkan mencapai 67 persen.
Walau begitu para peneliti tidak mengharapkan adanya terobosan besar. Mereka juga sepakat, tidak akan ada vaksin HIV yang punya efek perlindungan 100 persen. Jika bisa melindungi antara 60 persen sampai 70 persen saja, vaksin sudah dianggap sukses. Hingga efektivitas itu tercapai, sejauh ini hanya adan satu kemungkinan terapi penyakit AIDS, yakni dengan obat-obatan anti retrovirus.
(Ed: as/rap)