Dampak Serius Gas Air Mata, Iritasi Mata Hingga Kulit Terbakar
- Repro Twitter
VIVA – Kericuhan pasca penghitungan suara pemilu sejak Rabu dini hari diwarnai berbagai aksi hingga pelemparan gas air mata oleh petugas keamanan. Lalu seberapa berbahaya gas air mata?
Dilansir laman Self, kandungan berbagai bahan kimia di dalam gas air mata dapat memicu iritasi pada mata, kulit, hingga paru-paru.
Pusat Pengendalian dan Penanganan Penyakit dari Amerika Serikat bahkan menyebut bahwa gas air mata tak hanya mengiritasi mata namun juga berdampak pada sulitnya seseorang kembali aktif bergerak dan beraktivitas seperti sedia kala.
Komponen pada gas air mata atau substansi lachrymator paling banyak mengandung zat kimia CS (chlorobenzylidenemalononitrile) dan agen CN (chloroacetophenone). Sementara itu, agen OC (oleoresin capsicum) juga dikenal sebagai semprotan PAVA, yang memicu rasa perih atau biasa disebut semprotan lada.
Agen OC dan PAVA ini bekerja memicu rasa sakit dan membuat suhu tubuh berubah. Bahkan, kadar yang sedikit dapat mempenetrasi kulit dan memasuki membran di tubuh untuk kemudian memicu rasa sakit yang sangat besar dalam waktu hingga setengah jam.
"Dampak dari paparan gas air mata sangat tidak baik untuk kesehatan dan konsekuensi yang sangat berat bagi tubuh," ungkap peneliti medis, Rohini J. Haar, M.D., M.P.H., dikutip VIVA, Rabu 22 Mei 2019.
Dilanjutkannya, dampak lainnya yang begitu terasa yaitu membuat kulit terasa seperti terbakar. Saat bernapas dan jika tak sengaja menghirupnya juga, dapat melukai sistem pernapasan hingga paru-paru.
"Gejala ini seharusnya hanya terasa sementara yaitu 20-30 menit. Tapi, jika Anda terpapar terlalu lama, masalah yang terjadi pada Anda akan terasa lebih lama dan lebih parah," paparnya.
Dampak kesehatan lainnya yang lebih parah yaitu cedera paru-paru permanen, kulit yang terbakar hingga radang di sistem pernapasan yang berdampak selama berminggu-minggu lamanya. Pada kasus lebih parah, bagian tulang kepala dan punggung dapat terjadi cedera.