Bukan Hanya COVID-19, Nyawa Manusia Terancam akibat Cuaca Ekstrem
- Nur Faishal / VIVA.co.id
Bukan hanya wabah Virus Corona COVID-19, nyawa manusia terancam akibat cuaca ekstrem atau sangat panas. Jutaan orang di berbagai negara berpotensi terpapar tekanan panas (heat stress) berkadar tinggi. Kondisi berbahaya itu dapat membuat organ tubuh manusia berhenti beroperasi.
Mayoritas orang yang diprediksi terdampak tekanan panas itu tinggal di negara berkembang. Mereka disebut bekerja dalam kondisi yang membahayakan keselamatan nyawa.
Ancaman tekanan panas itu bakal dihadapi mereka yang bekerja di luar ruang, seperti sektor perkebunan, maupun yang beraktivitas di dalam ruang seperti pabrik dan rumah sakit.
Pemanasan global meningkatkan peluang musim panas yang bakal terlalu panas untuk manusia. Pada situasi itu, manusia diprediksi bakal sulit bekerja.
- Suhu bumi `kemungkinan naik` lebih dari 1,5 derajat Celcius, apa dampaknya bagi kita?
- Perubahan iklim menyebabkan penyakit keracunan makanan, kata peneliti
- Perubahan iklim: Lebih dari tiga miliar populasi akan hidup dalam suhu panas ekstrem pada 2070
Ketika kami bertemu Jimmy Lee, kacamatanya berembun. Keringat juga meluncur dari lehernya. Lee adalah dokter di bangsal kegawatdaruratan. Ia merawat pasien COVID-19 dalam iklim tropis Singapura yang panas.
Rumah sakit tidak memasang pendingin udara di ruangan Lee. Itu adalah keputusan yang secara sadar diambil, untuk mencegah penyebaran Virus Corona.
Dalam kondisi ruang kerja itu, Lee dan teman sejawatnya sadar bahwa mereka menjadi lebih sensitif dan mudah mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang lain.