Bursa Asia Mayoritas Anjlok Tertekan Lonjakan Inflasi Jepang ke Rekor Tertinggi
- Pixabay
Jakarta, VIVA – Bursa Asia-Pasifik menunjukkan sebagian indeks melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 21 Februari 2025. Laporan inflasi Jepang menjadi pemberat laju indeks.
Inflasi Jepang pada bulan Januari 2025 naik ke level 4 persen sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak Januari 2023-2025. Inflasi inti yang tidak termasuk harga makanan segar melonjak menjadi 3,2 persen melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,1 persen.
Pada Kamis, 20 Februari 2025, Yen Jepang menguat ke level tertinggi 150,52 per dolar AS sejak dua bulan terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah spekulasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Jepang (BoJ) pada tahun ini. Saat ini, yen diperdagangkan senilai 149,48 terhadap dolar AS.
Dikutip CNBC Internasional, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,43 persen. Indeks Topix merosot 0,33 persen.
Bank of Japan (BOJ)
- Japan Today
Indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 0,14 persen di awal pembukaan pasar. Begitu juga, indeks Kosdaq turun tipis sebesar 0,12 persen.
Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong melonjak dari 22.576,98 menjadi berada pada level 23.051. Indeks S&P/ASX 200 Australia menyusul penguatan sebesar 0,18 persen.
Di Wall Street, ketiga indeks acuan kompak terkapar di zona merah. Indeks S&P 500 sempat mencapai rekor tertinggi selama dua hari berturut-turut.
Bursa menghadapi tekanan jual sehingga para investor melepas saham beberapa perusahaan populer menyusul perkiraan yang lemah dari raksasa ritel Walmart. Akibatnya menimbulkan kekhawatiran tentang prospek ekonomi.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 450,94 poin atau 1,01 persen dan ditutup pada level 44.176,65. S&P 500 anjlok 0,43 persen ke level 6.117,52.
Nasdaq Composite menyusut 0,47 persen sehingga terdampar di level 19.962,36