Kementerian Keuangan: Tidak Ada Istilah Diskon Rokok

Gedung Kementerian Keuangan.
Sumber :
  • Arrijal Rachman/VIVAnews.com

VIVA – Kementerian Keuangan membantah adanya kebijakan diskon rokok. Hal itu seiring dengan kebijakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau atau rokok yang telah ditetapkan berlaku pada tahun ini.

Gapero Sambut Baik Rencana DPR Urai Polemik PP 28/2024 dan Rancangan Permenkes

Plt Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara (PKPN) Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Pande Putu Oka Kusumawardani, mengatakan, terminologi diskon rokok tersebut tidak pernah disebutkan dalam peraturan mana pun.

"Apakah terminologi diskon rokok tepat digunakan atau enggak, menurut saya kurang tepat," kata Oka dalam diskusi bertajuk "Optimalisasi Penerimaan Negara dari Cukai Rokok," Kamis, 18 Juni 2020.

Jaga Kedaulatan Ekonomi, Pemerintah Diminta Waspadai Intervensi Asing di Permenkes soal Rokok

Diskon rokok yang selama ini dianggap menjadi representasi dari Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor 37 Tahun 2017 menyebutkan bahwa harga transaksi pasar (HTP) diperbolehkan 85 persen dari harga jual eceran (HJE) yang tercantum dalam pita cukai.

Produsen dapat menetapkan HTP yang merupakan harga jual akhir rokok ke konsumen di bawah 85 persen dari HJE bilamana dilakukan tidak lebih dari 40 kota yang disurvei oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.  

Metode THR Klaim Bisa Kurangi Bahaya Rokok, Ini Faktanya!

Namun, menurut Oka, kebijakan tersebut tidak dapat diartikan bahwa pemerintah memberikan diskon kepada produsen atas HJE yang telah ditetapkan. Sebab, menurut dia, aturan itu hanya memberi ruang gerak dari sisi biaya distribusi kepada produsen rokok.

"Untuk bisa memungkinkan rantai distribusi berfungsi dengan baik perlu ruang gerak dan dari situ diatur harga transaksi dimungkinkan di bawah HJE threshold 85 persen. Tidak ada istilah diskon rokok," tutur dia.

Ilustrasi rokok

Peredaran Rokok Polos Dominasi Pelanggaran di 2024, Segini Potensi Kerugian Negara

Dalam dugaan pelanggaran rokok ilegal sepanjang tahun 2024 ditemukan bahwa rokok polos (tanpa pita cukai) menempati posisi teratas sebesar 95,44%.

img_title
VIVA.co.id
15 Februari 2025