Kapal yang Dibajak Abu Sayyaf Sudah Diingatkan Sebelumnya
- www.worldbulletin.net
VIVA.co.id – Hingga kini nasib 14 warga negara Indonesia yang disandera kelompok bersenjata masih dalam kondisi tidak jelas. Upaya pembebasan pun masih terus diusahakan oleh pemerintah Filipina dan Indonesia.
Pasca pembajakan kapal yang dilakukan kelompok , seluruh kapal yang hendak melakukan perjalanan sementara dihentikan. Puluhan kapal tunda dan tongkang akhirnya memenuhi pelabuhan di perairan Tarakan, Kalimantan Utara.
"Instruksi dari Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan dilarang sementara berlayar," kata Komandan Patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Tarakan Saharuddin, Rabu 20 April 2016.
Pulau pembajak
Menurut Saharuddin, kejadian dibajaknya kapal Tunda Hendry dan Cristy oleh kelompok pada 12 Maret 2016, cukup disesalkan.
Sebab selain karena sebelumnya telah ada kapal yang dibajak kelompok dan menahan 10 WNI. Ternyata kapal tunda Hendry dan Cristy, mengabaikan imbauan yang telah disampaikan KPLP.
"Sejak ada yang dibajak , kami langsung imbau agar kapal-kapal menghindari pelayaran ke Filipina lewat pulau-pulau yang rawan pembajakan. Namun masih diabaikan," kata Saharuddin.
Kini nasib 14 WNI yang disandera kelompok bersenjaata masih berharap upaya serius Filipina dan perusahaan mereka menebus uang ke kelompok .
Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) yang sudah berlatih dan berkumpul tiga pekan di Tarakan pun tidak bisa berbuat lebih jauh. Sebab hingga kini Filipina belum mengizinkan Indonesia untuk membantu mendesak kelompok Sayyaf.
Muhammad Tahir/Kalimantan Utara