Sosok 2 Anak Raja Minyak yang Korupsi Bersama Dirut Pertamina Patra Niaga, Rugikan Negara Rp193,7 Triliun
- YouTube VIVA.co.id
Jakarta, VIVA – Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menetapkan tujuh orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina (Persero) periode 2018-2023.
Kasus ini mengakibatkan kerugian negara yang sangat besar, mencapai Rp193,7 triliun, menjadikannya salah satu skandal terbesar dalam sejarah industri minyak Indonesia.
"Menetapkan tujuh orang saksi menjadi tersangka," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Harli Siregar, Senin, 24 Februari 2025, dikutip VIVA.co.id.
7 Tersangka tersebut yakni:
Daftar 7 Tersangka dan Perannya:
- Riva Siahaan (RS) - Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga
- Sani Dinar Saifuddin (SDS) - Direktur Optimasi Feedstock dan Produk PT Kilang Pertamina Internasional
- Yoki Firnandi (YF) - Direktur Utama PT Pertamina International Shipping
- Agus Purwono (AP) - Vice President Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional
- Muhammad Kerry Adrianto Riza (MKAR) - Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa
- Dimas Werhaspati (DW) - Komisaris PT Navigator Khatulistiwa dan PT Jenggala Maritim
- Gading Ramadhan Joedo (GRJ) - Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak
Dari tujuh tersangka tersebut, dua di antaranya adalah anak dari pengusaha minyak terkenal, Mohammad Riza Chalid, yang dikenal sebagai "Saudagar Minyak" atau "The Gasoline Godfather."
Mereka adalah Muhammad Kerry Adrianto Riza dan Gading Ramadhan Joedo. Keduanya diduga terlibat dalam permainan kotor.
Muhammad Kerry Adrianto Riza
Muhammad Kerry Adrianto Riza menjabat sebagai Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa. Dalam kasus ini, ia berperan sebagai broker yang bekerja sama dengan Subholding PT Pertamina.
Kerry mendapat keuntungan dari mark-up kontrak pengiriman (shipping) yang dilakukan oleh Direktur PT Pertamina International Shipping, Yoki Firnandi.
Modus yang dijalankan melibatkan pengadaan impor dengan harga yang sudah di-mark-up, menyebabkan negara harus mengeluarkan pembayaran lebih besar, berkisar 13%-15% di atas harga asli.
Kerry Adrianto lahir di Jakarta pada 15 September 1986. Ia merupakan anak dari pasangan Mohammad Riza Chalid dan Roestriana Adrianti.
Ayahnya dikenal luas sebagai pengusaha di berbagai sektor, mulai dari ritel mode, perkebunan sawit, jus, hingga minyak bumi.
Pendidikan Kerry juga tidak main-main. Setelah sempat bersekolah di Jakarta, ia pindah ke Singapura pada 1998 dan melanjutkan studi di United World College of South East Asia.
Ia kemudian berkuliah di Imperial College, University of London, Inggris, dan lulus pada 2008 dengan gelar BSc Applied Business Management. Selain itu, ia pernah menulis analisis ekonomi yang dimuat di situs Jakarta Globe pada November 2011.
Dalam kehidupan pribadinya, Kerry Adrianto menikah dengan Atya Irdita Sardadi dan dikaruniai dua orang anak.
Gading Ramadhan Joedo
Gading Ramadhan Joedo menjabat sebagai Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
Ia diduga berperan dalam memuluskan kontrak harga tinggi dengan berkomunikasi secara intens dengan Agus Purwono (Vice President Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional).
Ia juga disebut-sebut mendapat persetujuan dari Sani Dinar Saifuddin dan Riva Siahaan dalam proses impor minyak mentah dan produk kilang.
Gading bukanlah anak kandung Mohammad Riza Chalid, melainkan anak angkat keduanya. Meski demikian, ia tetap mendapatkan pengaruh besar dalam dunia bisnis minyak Indonesia, mengikuti jejak sang ayah angkat yang dikenal mendominasi impor minyak melalui Petral dan dijuluki sebagai "penguasa abadi bisnis minyak" di Tanah Air.
Selain terlibat dalam bisnis minyak, Gading juga dikenal sebagai Presiden Klub Amartha Hangtuah Jakarta, tim bola basket profesional yang berkompetisi di Indonesian Basketball League (IBL). Ia juga menjabat sebagai Direktur di PT Mahameru Kencana Abadi sejak 2012 dan PT Orbit Terminal Merak.