Baru Dilantik, Mendikti Saintek Brian Yuliarto Duduk Bareng di Rapat Senat Politeknik

Mendikti Saintek Brian Yuliarto Hadiri Rapat FKSPI (Doc: Istimewa)
Sumber :
  • VIVA.co.id/Natania Longdong

Jakarta, VIVA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) yang baru dilantik, Brian Yuliarto menghadiri Rapat Kerja Forum Komunikasi Senat Politeknik/Akademi Komunitas se-Indonesia (FKSPI) di Jakarta.

Mendikti Saintek: Tidak Ada Kenaikan UKT Mahasiswa

Kehadirannya sebagai langkah awal dalam memperkuat koordinasi guna memajukan pendidikan tinggi vokasi di Tanah Air. “Kita memang sedang aktif bertemu untuk membangun komunikasi dengan kampus-kampus. Kebetulan Forum Komunikasi Senat Politeknik sedang rapat di samping kantor saya,” kata Brian,  Sabtu, 22 Februari 2025.

“Jadi saya datang ke sini sekaligus untuk mendengarkan bagaimana kondisinya, juga melihat tantangan ke depan yang dihadapi Politeknik untuk memenuhi keinginan Presiden yakni menyiapkan negara maju,” ujarnya menambahkan.

Prabowo Ganti Mendikti Saintek, Pakar: Ultimatum Menteri Lain yang Kinerjanya Tidak Oke

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto (tengah) di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2025

Photo :
  • VIVA.co.id/Yeni Lestari

Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan paradigma baru kebijakan pendidikan tinggi, yaitu pendidikan tinggi untuk pembangunan.

President Prabowo Makes First Cabinet Resuffle, Removes Controversial Minister

Menurutnya, pendidikan tinggi vokasi harus lebih dari sekadar pembelajaran praktis, melainkan juga memberikan pemahaman mendalam mengenai sains dan teknologi agar lulusan siap menghadapi tantangan industri.

“Tujuan dari Pak Prabowo membuat negara kita maju dan kualitas negara kita seperti negara maju lainnya. Sehingga anak kita bisa hidup dengan tenang, nyaman, serta kesejahteraan tercapai,” ujarnya.

Menteri Brian pun menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak dapat tercapai tanpa industri yang kuat dan berdaya saing.

Menurutnya, produksi berkualitas tinggi memerlukan modal yang solid, serta dukungan dari sumber daya manusia yang unggul. Oleh karena itu, Kemendiktisaintek akan berfokus pada pemantapan kemandirian bangsa, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengembangan industri kreatif, serta hilirisasi berbasis sumber daya alam.

“Politeknik harus siap menghadapi ini. Kami akan melakukan kajian mendalam terkait kebutuhan SDM, bidang keahlian yang diperlukan, serta jumlah lulusan yang dibutuhkan, bukan hanya mengikuti tren yang berkembang,” katanya.

Indonesia, lanjut Menteri Brian, saat ini masih terjebak dalam middle income trap, sebuah tantangan besar yang harus diselesaikan dengan kebijakan ekonomi dan SDM yang tepat. Dalam hal ini, politeknik dapat menjadi motor penggerak utama dalam membangun sumber daya manusia yang kompeten sesuai dengan visi Asta Cita presiden.

“Kita perlu mengawal setiap perguruan tinggi untuk berperan strategis, karena sekarang adalah momen bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap dan melahirkan industri-industri besar,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua FKSPI Efriyanto menegaskan bahwa senat politeknik siap mendukung kebijakan dan program Kemendiktisaintek, khususnya dalam menciptakan SDM unggul yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo.

“Kami sampaikan ke Pak Menteri bahwa kami hadir untuk bersama-sama dengan pemerintah bagaimana mengoptimalkan perguruan tinggi negeri, terutama dalam menciptakan SDM unggul. Karena dari banyak Asta Cita yang ditetapkan Presiden (Prabowo), Kemendiktisaintek mendapatkan tugas utama terkait SDM,” ujar Efriyanto.

FKSPI pun berkomitmen untuk memperkuat komunikasi antara senat, pimpinan perguruan tinggi, serta kementerian. Menurut Efriyanto, komunikasi yang baik antara senat dan direktur politeknik menjadi kunci keberhasilan rencana strategis jangka panjang.

“Pak Menteri mengingatkan agar komunikasi dengan direktur harus berjalan dengan baik, harus sejalan dengan senat. Karena kalau tidak, maka renstra jangka panjang Politeknik tentu tidak bisa dijalankan,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang menaungi 46 Politeknik Negeri dan 6 Akademi Komunitas di seluruh Indonesia, FKSPI memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan efisiensi anggaran yang saat ini diberlakukan oleh pemerintah.

“Kalau di dunia perbankan, ada istilah kebijakan uang ketat. Cuma kita nggak tahu mana yang harus diketatkan. Clue-nya belum ketahuan,” kata Efriyanto.

Ia juga mengingatkan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena perguruan tinggi memiliki core business dalam menghasilkan SDM unggul.

Standar nasional pendidikan (SNP) tetap harus dipertahankan agar kualitas lulusan tetap kompetitif.

“Saya dan kawan-kawan Politeknik akan menggaungkan, efisiensi boleh, tapi jangan standar pendidikan yang diotak-atik. Standar adalah roh dari pendidikan itu sendiri, jadi jangan sampai di-down grade, karena di sisi lain, tuntutan kualitas industri terus meningkat,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya