Pemprov DKI Siapkan 3 Sistem Peringatan Dini Banjir
- Kenny Putra/VIVAnews
VIVA – Memasuki bulan November ini, Ibukota Jakarta sudah mulai diguyur hujan. Mempersiapkan musim penghujan yang bisa menyebabkan banjir di Jakarta, Pemprov DKI pun menyatakan siap menghadapi musim hujan kali ini.
Panduan dalam menentukan langkah pengendalian banjir juga sudah diatur dalam Instruksi Gubernur No 52 tahun 2020. Ingub yang diteken Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 15 September 2020 ini mengatur sejumlah hal terkait penanganan sistem pengendalian banjir di era perubahan iklim.
Salah satu yang menjadi fokus dalam Ingub, yakni soal optimalisasi sistem peringatan dini bencana. BPBD DKI Jakarta dalam hal ini menjadi leading sector.
Sumber informasi sosial media, SMS Blast, dan pengeras suara peringatan dini setidaknya menjadi tiga sistem utama peringatan utama yang dibangun Pemprov DKI Jakarta dalam penanganan banjir.
Salah satu sistem peringatan dini banjir yakni dengan Speaker yang berbasis wireless audio/suara,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Sabdo Kurnianto, dalam keterangannya.
Tidak hanya itu, petugas BPBD DKI Jakarta pun telah terbiasa menyampaikan langsung peringatan dini bencana melalui microphone.
Informasi yang disampaikan berupa ketinggian air di sejumlah pintu air dan daerah mana saja yang terdampak banjir. Sehingga, dengan begitu warga bisa bersiap-siap karena ada waktu yang dibutuhkan bagi air untuk tiba di permukiman warga.
Kemudian, ada SMS blast. Sistem BPBD akan mengirim SMS secara otomatis kepada warga di sekitar lokasi yang akan terdampak banjir. SMS berisi informasi ketinggian air dan imbauan kewaspadaan datangnya banjir.
Terakhir sumber informasi baik media sosial, website, dan telepon. Warga bisa memantau sejumlah sumber informasi sebagai berikut:
Facebook: BPBD DKI Jakarta
Twitter: @BPBDJakarta
Instagram: @bpbddkijakarta
call center: 112
website: bpbd.jakarta.go.id
Tidak hanya disebabkan oleh berbagai faktor, banjir di Jakarta juga bisa datang dari segala penjuru. Air kiriman dari Bogor, hujan lokal dan rob menjadi 3 sumber utama yang membuat Jakarta banjir.
Ketiganya membutuhkan penanganan yang tidak sama. Sedikitnya ada 7 skenario yang sudah disiapkan untuk menanggulangi banjir.
Salah satunya menyiapkan lokasi pengungsian. Kini, ada tantangan tersendiri yang harus diselesaikan dalam menghadirkan lokasi pengungsian, yakni pemenuhan protokol kesehatan.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan, semua proses penanganan banjir mulai evakuasi hingga pengungsian harus mengutamakan protokol kesehatan.
“Kampung tepi sungai yang berisiko tergenang ketika air kiriman dari hulu datang dalam volume yang besar. Saat kejadian itu muncul, kita terbiasa membangun pos pengungsian. Kita terbiasa melakukan evakuasi. Kali ini kita berhadapan dengan kondisi COVID-19," kata Anies di Polda Metro Jaya, Rabu (30/9).
“Tempat evakuasi, pengungsian, protokol penanganan pengungsi semua harus masukkan unsur protokol kesehatan yang beda dari tahun sebelumnya," katanya.