Jusuf Kalla Ungkap Indonesia Masih Nyicil Utang Krisis 1998

Wakil Presiden Jusuf Kalla Istana Wakil Presiden, Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Fajar Ginanjar Mukti

VIVA – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan Indonesia hingga saat ini masih mencicil utang dan kewajiban-kewajiban lain yang timbul akibat krisis moneter 1998. Krisis yang berdampak kepada lengsernya Presiden Soeharto pada saat itu salah satu penyebabnya adalah kebijakan yang tidak sehat di sektor perbankan.

Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 132,2 Triliun hingga Mei 2024

"Tahun 1997, 1998, kita mengalami krisis moneter dan perbankan, yang akibatnya sampai sekarang masih kita harus jalani," ujar JK dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Ritz-Carlton SCBD Jakarta, Jumat malam, 11 Januari 2019.

Menurut JK, di masa itu, pemerintah menjamin setiap risiko yang muncul dari aktivitas perbankan. Saat sektor itu mengalami banyak masalah, keuangan negara mau tak mau turut berpengaruh juga akibat kebijakan, hingga akhirnya menimbulkan krisis.

5 Negara yang Paling Jarang Utang di Dunia, Nomor 1 Tetangga Indonesia

"Pada 20 tahun yang lalu, akibat krisis dibayar oleh government, dibayar oleh uang rakyat," ujar JK.

JK menegaskan, krisis merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi Indonesia. Pemerintah saat ini mendorong perkembangan sektor perbankan, namun tidak serta merta menjamin juga segala risiko yang timbul akibat aktivitas mereka.

Pembelian Alutsista Dikritik, Jubir Garuda: Dianggap Tak Normal Demi Kebutuhan Kampanye

"Pada tahun-tahun yang akan datang, hal itu tidak akan terjadi lagi. Semua risk, semua tindakan keliru yang dilakukan sektor keuangan, akan ditanggung sendiri dari masing-masing pelaku usaha," ujar JK. (ren)

Ilustrasi utang.

Utang Pemerintah Naik Lagi! Capai Rp 8.444 Triliun di Akhir Semester I

Per akhir Juni 2024, jumlah utang pemerintah tercatat sebesar Rp 8.444,87 triliun, naik 1,09 persen dari akhir Mei 2024 yang sebelumnya hanya sebesar Rp 8.353,02 triliun.

img_title
VIVA.co.id
6 Agustus 2024