PT KAI Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran pada 28-29 Maret
- VIVA.co.id/Andrew Tito
Jakarta, VIVA – Puncak arus mudik Lebaran 2025 dengan moda transportasi kereta api diperkirakan terjadi pada 28-29 Maret 2025. Prediksi tersebut tak terlepas dari kebijakan work from anywhere (WFA) yang diberlakukan pemerintah, sehingga memungkinkan para pekerja, terutama aparatur sipil negara (ASN) untuk melakukan perjalanan mudik lebih awal.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Didiek Hartantyo, mengatakan bahwa puncak arus mudik pada periode libur Lebaran tahun ini diprediksi jatuh pada Jumat, 28 Maret 2025. Menurutnya, hal ini merupakan dampak langsung dari penerapan kebijakan WFA yang telah diberlakukan pemerintah.
“Perkiraan puncak arus mudik itu tanggal 28 dan 29 Maret,” ujar Didiek, Senin, 24 Maret 2025.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan WFA memberikan pengaruh besar terhadap pola perjalanan mudik masyarakat. “Artinya apa? Bahwa pengaruh daripada kebijakan pemerintah, work from anywhere itu juga terasa. Sehingga sudah ada penyebaran-penyebaran mulai dari Jumat (21 Maret) sampai Senin dan Selasa (23-24 Maret), sehingga penyebarannya terasa,” kata Didiek.
Diketahui, pemerintah melalui Surat Edaran (SE) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 2 Tahun 2025 pada 5 Maret 2025 memperbolehkan pegawai ASN bekerja dari mana saja pada periode Senin (24 Maret) hingga Kamis (27 Maret). Kebijakan ini bertujuan memberikan fleksibilitas bagi para pekerja, sehingga mereka dapat mengatur perjalanan mudik tanpa mengganggu produktivitas kerja.
Langkah itu dinilai tepat oleh sejumlah kalangan, terutama mengingat tingginya volume penumpang pada masa mudik Lebaran. Dengan adanya WFA, para pemudik dapat menghindari penumpukan pada hari-hari mendekati Lebaran, sehingga arus mudik dapat terdistribusi lebih merata.
Dampak kebijakan WFA ini pun dirasakan langsung oleh para pemudik, termasuk Rani, seorang ASN yang hendak mudik ke Semarang, Jawa Tengah. Ia mengaku bahwa WFA membuatnya dapat pulang lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya saya mudik ke kampung itu mepet Lebaran, H-2, pernah juga H-1. Tapi alhamdulillah karena ada work from home atau work from anywhere ini, saya bisa pulang lebih awal,” ujar Rani dengan penuh syukur.
Senada juga dirasakan Ghea, seorang pekerja di industri kreatif, yang memanfaatkan kebijakan WFA untuk mudik lebih awal dan menghemat biaya perjalanan. “Ini bagus, ya. Selain bisa pulang lebih awal dan lebih lama di rumah (kampung halaman), kita juga bisa dapat tiket yang lebih murah,” kata Ghea.
Kebijakan WFA terbukti mampu mengurangi kepadatan arus mudik secara signifikan. Para pekerja dapat memanfaatkan waktu yang lebih fleksibel untuk pulang kampung lebih awal, sehingga puncak arus mudik tidak terpusat pada satu hari saja.
PT KAI juga mengantisipasi lonjakan penumpang pada tanggal 28 dan 29 Maret 2025 dengan menyiapkan armada tambahan dan memperketat protokol keamanan serta pelayanan di stasiun-stasiun utama. Langkah ini bertujuan memastikan kenyamanan dan keselamatan para pemudik selama perjalanan.
Dengan adanya kebijakan WFA dan kesiapan dari pihak PT KAI, diharapkan arus mudik Lebaran 2025 dapat berjalan lancar dan terkendali, sehingga masyarakat dapat menikmati momen kebersamaan di kampung halaman dengan tenang dan aman.