Reporter Tanpa Batas: Ini Hari Gelap dalam Sejarah Prancis
Kamis, 8 Januari 2015 - 00:00 WIB
Sumber :
- REUTERS/Gonzalo Fuentes
VIVAnews
- Organisasi Reporter Tanpa Batas memasang tirai hitam di layar situs mereka menyusul serangan bersenjata atas majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis. Organisasi yang bermarkas di Prancis ini menyebut hari ini, Rabu 7 Januari 2015, sebagai hari gelap dalam sejarah Prancis.
"Sebuah serangan atas kantor berita dengan senapan mesin adalah setipe dengan kekerasan yang kita saksikan di Irak, Somalia atau Pakistan," kata Sekretaris Jenderal Reporter Tanpa Batas, Christophe Deloire, di lokasi kejadian. "Pernahkah kita membayangkan horor semacam ini di Prancis? Sebuah mimpi buruk yang kenyataan. Serangan teroris ini menandai sebuah hari gelap dalam sejarah Prancis."
"Sebuah serangan atas kantor berita dengan senapan mesin adalah setipe dengan kekerasan yang kita saksikan di Irak, Somalia atau Pakistan," kata Sekretaris Jenderal Reporter Tanpa Batas, Christophe Deloire, di lokasi kejadian. "Pernahkah kita membayangkan horor semacam ini di Prancis? Sebuah mimpi buruk yang kenyataan. Serangan teroris ini menandai sebuah hari gelap dalam sejarah Prancis."
Sementara Federasi Jurnalis Eropa (EFJ) menyatakan, melalui lamannya, pembantaian ini merupakan tindakan barbar atas jurnalis dan kebebasan pers. Presiden EFJ Mogens Blicher Bjerregaard menyatakan, "Serangan ini bukan hanya serangan atas jurnalis tapi juga serangan atas kebebasan media. Jurnalis hari ini menghadapi bahaya dan ancaman lebih besar".
Reuters
melaporkan, setidaknya 12 orang tewas dalam sebuah insiden penembakan di kantor Charlie Hebdo, Paris, suratkabar yang pernah mendapat serangan bom molotov setelah menerbitkan karikatur tentang pemimpin-pemimpin Muslim. Di antara 12 orang itu, 9 orang adalah jurnalis.
Baca Juga :
Halaman Selanjutnya
Sementara Federasi Jurnalis Eropa (EFJ) menyatakan, melalui lamannya, pembantaian ini merupakan tindakan barbar atas jurnalis dan kebebasan pers. Presiden EFJ Mogens Blicher Bjerregaard menyatakan, "Serangan ini bukan hanya serangan atas jurnalis tapi juga serangan atas kebebasan media. Jurnalis hari ini menghadapi bahaya dan ancaman lebih besar".