Logo ABC

China Datang Bawa Uang, Bakal Ada 'Singapura Kecil' di Pasifik

Kawasan permukiman Rainbow City yang dibangun perusahaan China di Efate, Vanuatu.
Kawasan permukiman Rainbow City yang dibangun perusahaan China di Efate, Vanuatu.
Sumber :
  • abc

Penduduk asli yang disebut sebagai ni-Vanuatu, merasa tidak nyaman dengan kehadiran tembok pemisah tersebut.

Seorang warga sekitar, Graham Toara, menyatakan curiga dengan hadirnya tembok-tembok pembatas ini.

Meskipun pengembang menjanjikan bahwa ni-Vanuatu nantinya bisa mengakses sekolah dan rumahsakit di sana, namun Toara tidak percaya begitu saja.

"Bila kita bicara tentang sebuah kota - artinya tidak boleh ada dinding tembok," katanya.

"Bila membangun kota, kita seharusnya menghilangkan dinding tembok," tambah Graham.

Dia merasa sangat frustrasi dan bingung bagaimana nantinya dia menghadapi penghuni asing di kawasan kota kecil yang dipagari di dekat kampungnya itu.

Gabriel Toara, left, and her son Graham Toara, right, whose village neighbours Rainbow City. Gabriel Toara (kiri) dan anaknya Graham Toara tinggal di desa dekat kawasan Rainbow City.

ABC News: Melissa Clarke

"Kami tidak memahami kehadiran Rainbow City ini. Pemerintah perlu menjelaskannya kepada kami," katanya.

"Semua ini dikerjakan orang China. Warga masyarakat sekitar sini sama sekali tidak mengerti apa-apa," ujar Graham.

Di Vanuatu sebenarnya terdapat banyak resor dan turis asing yang menjadi andalan perekonomian negara itu.

Vanuatu terdiri dari 80-an pulau di Pasifik Selatan, di sebelah timur Townsville, dan sebelah barat Fiji.